Ketika rasa berbicara ke dalam sebuah kata,
Ketika raga sulit tuk bergerak menyentuh hadirnya,
Namun, jiwa yang selalu mencoba menyelam ke dalam rasa yang tercipta.
Pahami, ini hanyalah rangkaian kata yang berusaha mencoba menyelinap ke dalam pikiranmu.
Aku berharap kedua pasang bola matamu itu nantinya dapat melihat sebuah rasa, yang mungkin saja hanya akan membuang rekaman-rekaman indah dari sisi penglihatanmu, meskipun kamu tak pernah melihatku.
Dan aku berharap senyummu itu nantinya dapat menghargai ada dan tiadanya sebuah rasa, yang mungkin saja hanya akan melukai setiap arti dari manisnya senyumanmu itu sendiri, meskipun kamu tak pernah tersenyum kepadaku.
Namun sepertinya aku tak mungkin layak dihargai dengan kedua itu.
Karena aku bagaikan seorang pengecut yang selalu bersembunyi dibalik sebuah tembok besar yang bertuliskan "akulah pengagummu" serta kata kata puitis lainnya yang menurutmu hanyalah sebuah pujian belaka yang membuat setiap wanita akan luluh hatinya, bahkan nampaknya tidak.
Maaf, sudah menjadi hantu untuk merasuki dan membuat kacau pikiranmu,
Sekarang sejuta permintaan maaf akan aku sampaikan, atas sebuah ungkapan yang menurutmu hanya akan memalukan dirimu saja dan mungkin hanya mengotori setiap warna dari indahnya arti perjalanan hidupmu.
Aku hanya ingin Tuhan tau, lalu membalas hambanya dengan sebuah kebaikan,
Agar aku bisa menyentuh karya indah ciptaan Tuhan, kamu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar