Senin, 19 September 2016

Fase

Pertemuan hanya akan melahirkan perpisahan,

Seperti layaknya hidup yang selalu menyadari kematian.

Seperti nyawa yang selalu membayangi ajal.

Mungkin tak usah ada tangis jikalau mati lebih sakit dari fase perpisahan,

Lantas semua didatangkan dengan sakit perjuangan seorang ibu yang melahirkan tangisan kecil saat kamu dihadirkan ke bumi.

Saat tumbuh, setiap manusia menuliskan berbagai macam tutur kata dan mendramatisir sebuah keadaan.

Maka berdirilah layaknya sebatang bambu yang kemudian hari akan kering dan retak.

Seperti meratapi umur diatas sebuah kalender yang kamu jadikan sebuah alas untuk tidur.

Yakinlah, bahwa hari ini tak seperti hari yang kemarin,

Lembaran ini bukan seperti lembaran yang lalu,

Ingatan ini bukan seperti benak yang membelenggu.

Biarkanlah semuanya mekar lalu berseri-seri dengan sebuah beda yang nampaknya indah itu.

Biarkanlah semuanya bersinar lalu berkilau memeluk hangat haus pujian itu.

Biarkanlah semuanya tumbuh lalu rangkailah sebuah tutur kata yang selalu ku tunggu itu.

Minggu, 11 September 2016

Pasang Surut

Wahai genangan air yang selalu menampung kehidupan.
Tebarkanlah kebaikan alam semesta.
Ciptakanlah kedamaian sejuk kan jiwa.
Biarkan setiap akar melepaskan dahaga surya.

Bersama sekelompok makhluk penghirup air.
Yang hidup mengandalkan gelombang air.
Yang takut akan ancaman para jerat.
Manusia tiada mengerti akan tangis didalam kehidupan air.

Ketika malam tiba,
Seluruh biota seperti meronta.
Karena tegar dalam sebuah fase hidupnya.
Itulah pasang surut kehidupan yang seharusnya manusia sadari.

Ombak perlahan menghampiri.
Lalu surut seakan mengajak untuk tidak selamanya menepi.
Seiring butiran pasir yang bersembunyi disela jari kaki.
Tampaknya ingin berdansa merayu hasrat duniawi.