Di ujung sana, terlihat seorang gadis dengan aura dilema,
menatapku dengan sorot yang penuh tanya.
Malu yang menganggu menjadi jeda,
namun keyakinan selalu memaksa untuk jaga pandangannya.
Aku terkurung dalam jeruji kemunafikan,
mengunci mulut tanpa membebaskan raga, terpasung untuk melangkah menuju keterpikatan,
namun tetap saja malu menjadi jeda.
Ragu menjadi sekantung belenggu,
berani tak lagi kuatkan percaya diri, berkaca lah pada genangan air saat cermin mengkhianati.
Saat terbuai asmara seperti tenggelam dalam sejuta aksara, pikir sebuah perkara agak tidak terombang-ambing sengsara.